Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Makalah Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik

Makalah Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik - Sobat linguasphere sekalian, hari ini admin akan share tugas kuliah psikologi pendidikan atau Perkembangan Peserta Didik. Kali ini, topik yang dibahas adalah tentang Makalah Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik. sobat mungkin ada yang sekedar ingin tahu atau butuh tambahan ide untuk menulis sesuatu yang berkaitan dengan hal ini. berikut ini tentang Makalah Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik selengkapnya

a. Pengertian Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

Selama hayatnya, manusia sebagai individu mengalami perkembangan yang berlangsung secara berangsur-angsur, perlahan tapi pasti, menjalani berbagai fase. Proses perkembangan yang berkesinambungan, beraturan, bergelombang naik dan turun, yang berjalan dengan kelajuan cepat maupun lambat,

Struktur dan Unsur-Unsur Kurikulum

Struktur dan Unsur-Unsur Kurikulum – informasi terbaru kali ini yang dimuat dalam linguasphere adalah membahas tentang Struktur dan Unsur-Unsur Kurikulum. Sobat mungkin sedang belajar ilmu pengembangan kurikulum, dan sedang membutuhkan referensi yang berkaitan dengan materi tersebut. Silahkan simak ulasan singkatnya dalam Struktur dan Unsur-Unsur Kurikulum berikut ini

          Seperti dikemukakan oleh Pratt kurikulum adalah sebuah system. Sebagai suatu system, ia pasti mempunyai komponen-komponen atau bagian-bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan. Komponen-komponen dalam sebuah system bersifat harmonis, tidak saling bertentangan. Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan akan direncanakan mempunyai unsur-unsur pokok tujuan, isi, organisasi danstrategi.   

Penjelasan Arti Teks Narrative dan Contoh Lengkap

Penjelasan Arti Teks Narrative dan Contoh Lengkap – Ada banyak jenis teks yang kita pelajari dalam bahasa inggris. Sebelumnya, kita sudah membahas tentang teks recount mulai dari definisi hingga contohnya. Nah sekarang di edisi kali ini, blog linguasphere akan membahas tentang Penjelasan Arti Teks Narrative dan Contoh Lengkap. Sesuai dengan judulnya, penjelasan nggak akan cuma mentok sama artinya saja, tapi kita juga akan membahas dengan memberikan contohnya juga. berikut ini penjelasan sederhana dan mudah tentang Penjelasan Arti Teks Narrative dan Contoh Lengkap  di bawah ini

Fungsi dan Peran Lembaga Pendidikan

Fungsi dan Peran Lembaga Pendidikan - Dalam arti sempit, fungsi pendidikan adalah membantu perkembangan jasmani dan rohani peserta didik secara sadar. Dalam arti yang lebih luas, pendidikan berfungsi sebagai alat pengembangan pribadi, pengembangan warga negara, pengembangan kebudayaan, dan pengembangan bangsa. 

Lembaga pendidikan ada tiga macam, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini mempunyai fungsi dan perannya masing masing. Beberapa fungsi keluarga antara lain sebagai berikut: 

Pengertian dan Faktor-Faktor Pendidikan

Pengertian dan Faktor-Faktor Pendidikan | Linguasphere - Halo, sobat. Informasi terbaru kali ini membahas tentang Pengertian dan Faktor-Faktor Pendidikan yang menjadi salah satu materi dalam pengantar pendidikan atau dasar pendidikan. Dalam pengertian yang sederhana, pendidikan bermakna sebagai usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi potensi pembawaan baik jasmani dan rohani sesuai dengan nilai nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. 
Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak. Tanpa pendidikan, mustahil bagi suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi untuk maju dan sejahtera.

Piaget: Children as an Active Learner

According to Piaget, child is an active learner. Piaget’s approach concerns with how children as young learner can function in the world that surrounds them, and how this influences their mental development. 

The child is seen as continually interacting with the world around her/him, solving problem presented by the environment. It is through taking action to solve problem that learning occurs.

My Experience In Studying English

I spent my senior high school period in SMA 1 Karangan. My experience in studying English is not very nice in this school because it is so boring. The way my English teacher when teaching me and my friend is very simple even monotonous. This often makes us sleepy and lacks of interest. Every time we learn this lesson, we just sit on the chair nicely, listen to the teacher explanation carefully; write what he is explaining in our books.

History of English Law in England and Wales

    English law is the legal system of England and Wales, and is the basis of common law, legal systems used in most Commonwealth countries and the United States except Louisiana (as opposed to civil law or pluralist systems in use in other countries). It was exported to Commonwealth countries while the British Empire was established and maintained, and it forms the basis of the jurisprudence of most of those countries. English law prior to the American Revolution is still part of the law of the United States through reception statutes, except in Louisiana, and provides the basis for many American legal traditions and policies, though it has no superseding jurisdiction.
    English law in its strictest sense applies within the jurisdiction of England and Wales. Whilst Wales now has a devolved Assembly, any legislation which that Assembly enacts is enacted in particular circumscribed policy areas defined by the Government of Wales Act 2006, other legislation of the Parliament of the United Kingdom, or by orders in council given under the authority of the 2006 Act. Furthermore that legislation is, as with any by-law made by any other body within England and Wales, interpreted by the undivided judiciary of England and Wales.
    The essence of English common law is that it is made by judges sitting in courts, applying their common sense and knowledge of legal precedent (stare decisis) to the facts before them. A decision of the highest appeal court in England and Wales, the Supreme Court of the United Kingdom, is binding on every other court in the hierarchy, and they will follow its directions. For example, there is no statute making murder illegal.[citation needed] It is a common law crime - so although there is no written Act of Parliament making murder illegal, it is illegal by virtue of the constitutional authority of the courts and their previous decisions. Common law can be amended or repealed by Parliament; murder, by way of example, carries a mandatory life sentence today, but had previously allowed the death penalty.
    England and Wales are constituent countries of the United Kingdom, which is a member of the European Union. Hence, EU law is a part of English law. The European Union consists mainly of countries which use civil law and so the civil law system is also in England in this form. The European Court of Justice can direct English and Welsh courts on the meaning of areas of law in which the EU has passed legislation.
    The oldest written law currently in force is the Distress Act, part of the Statute of Marlborough, 1267 (52 Hen. 3).[5] Three sections of Magna Charta, originally signed in 1215 and a landmark in the development of English law, are extant but arguably they date to the consolidation of the act in 1297.

5 Tips to Prepare Yourself For an Exam

Two days later, most of our young Indonesian people will attend an important event for their education. It is SNMPTN (Seleksi Nasional Masul Perguruan Tinggi Negeri), a test which should be conducted by every one who wants to continue their study in a state university. There are more than twenty universities that participates in this occasion. They are spread widely from Sabang to Merauke. However, it is clearly found that the number of university built in this country is still centralized to Java Island. The popular unversities like UI (Jakarta), ITB (Bandung), ITS (Surabaya) or UGM (Jogjakarta),  are mostly located in this island.

This event is conducted annually in this country, Indonesia. It is reglarly held around June after the gradution result of the senior high school students have been receieved. In spite of doing study hard as the preparation for a successfull examination, there are some other points that should be noticed by the ex-senior high school student. First, keep the test card in a very safe that you are sure not to forget it. Put it in appropriate place like in your pencil case or in a special map file. Do not put the test card inside a pocket. 

Reduce Your Prostate Cancer Risk With Coffee

Drinking a coffee has been an inseparable lifestyle for the people in this era. it recognizes a lot of various taste in coffee. Those are from moccacino, chapuccino, latte, even a tradtional taste like Tubruk Coffee which is popular in Indonesia or a very expensive one, Kopi Luwak (Luwak Coffee). Some people are even willing to go overseas to study about coffee, to discover the new taste for a coffee.

Drinking coffee is not merely to relieve your sleepy feeling or to strengthen the spirit for your daily activties. This beverage is able to reduce the risk of prostate cancer. People who drink more than six cups of coffee in a day will have 20 percent less possible to suffer that serious disease. The risk is lower than 60 percent for the people to suffer other type of cancer.

      The study invites 48 thousand men who work in the field of health to participate in the research. They were asked to report their average consumption for drinking coffee in a day from 1986 to 2006.

      There is no differences found between the effects of caffeinated coffee and non caffeinated coffee. Thus, it is possible to coffee consists of compounds that can protect the body from prostate cancer. However, Helen Rippon, a doctor from The Prostate Cancer Charity, would not recommend their patients to drink coffee. Excessive consumption can make the symptoms of benign prostatic even worse, "he said. The early symptoms of prostate disease is usually difficult in the process of urination.

Awal Perdebatan Islam dan Negara di Indonesia.

Wacana tentang makna, penafsiran dan fungsi pancasila telah menjadi perdebatansepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak bangsa ini merdeka, perdebatan ini selalu menjadi aktual di kalangan akademisi dan politisi Indonesia sampai saat ini. Apalagi didorong dengan lahirnya beberapa Partai Islam, permintaan diberlakukannya syariat Islam di Aceh (NAD), munculnya teroris-teroris yang  berkedok Islam, laskar serta organisasi yang bernafaskan Islam kanan, di antaranya Laskar Jihad, Hizbu Tahrer, Jaringan Islamiyah dan Front Pembela Islam (FPI). Selain itu yang paling jelas menjadi indikator perlunya kejelasan relasi Islam dan negara dalam kehidupan berbangsa terlihat pada menguatnya ide-ide pencantuman Syari‘at Islam dalam amandemen UUD 45 setiap ST MPR hasil pemilu 1999.
Hal ini juga sering terjadi dalam wacana politik Indonesia di penghujung tahun 1990-an yang juga sibuk memperdebatkan ideologi dan peristiwa-peristiwa politik yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, di antaranya mengenai hubungan Islam dan negara, peran ABRI dalam politik, dan bentuk demokrasi yang sesuai dengan negara ini.

    Untuk memperjelas tahap-tahap perjuangan umat Islam Indonesia dalam merespon perdebatan Islam dan negara. M. Rusli Karim membagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 1912 hinggga proklamasi kemerdekaan, tahap kedua 1945-1955, tahap ketiga, 1955-1965 dan tahap keempat 1965 sampai sekarang. Perdebatan ini mulai aktual sejak dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai upaya persiapan kemerdekaan yang diharapkan, dan telah disetujui oleh pemerintahan Jepang. Hal ini juga dinyatakan dalam pidato Perdana Menteri Kuniaki Koiso kepada Parlemen Jepang pada tahun 1944 yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dalam "waktu dekat".
Akan tetapi kalau kita teliti lebih dalam bahwa persinggungan antara Islam dan negara di Nusantara ini sudah berlangsung lama sebelum Indonesia merdeka yakni di bawah tekanan kolonial Belanda dan Jepang, namun demikian untuk melacak isu tentang istilah negara Islam di Indonesia bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena sejauh ini yang diketahui hanyalah pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI) seperti Surjopronoto dan Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang telah mewacanakan suatu kekuasaan atau pemerintahan Islam di akhir tahun 1920-an. Saat itu Surjopronoto menggunakan tema een Islamietsche regeering (Suatu Pemerintahan Islam) sementara Sukiman memakai istilah een eigen Islamietisch bestuur onder een eigen vlag (Suatu kekuassan Islam di bawah benderanya sendiri) semua ini digunakan untuk menciptakan kekuasaan Islam di Indonesia yang substansinya sebagai alat mencapai kemerdekaan
Barangkali wacana dan teori tentang Negara Islam ini belum banyak ditulis secara terperinci oleh pemimpin Islam pada saat itu, sehingga dalam sidang BPUPKI pada 1945 wacana ini terkesan begitu aktual diperdebatkan karena secara resmi peristiwa ini muncul pertama kalinya dalam panggung politik Indonesia.

12 Lagu Anak-anak Yang Menyesatkan !

Di waktu sekarang, lagu anak anak tidaklah setenar jaman semuda saya dulu. Waktu kecil, beberapa channel di TV bahkan menyediakan acara khusus yang memutarkan lagu lagu anak contohnya acara Tralala Trilili, Dunia Anak, dll. ada beberapa lagu populer sepanjang masa kaya' Balonku dan Bintang Kecil yang seakan sudah wajib diajarkan ke anak-anak.  Ternyata di antara lagu anak-anak yang populer tersebut, ada yang banyak mengandung kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi. 
Berikut buktinya:

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5!

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) . Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!

5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta- Bandung dan Jakarta-Surabaya!

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

8. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg “mengancam”

9. “Bintang kecil dilangit yg biru…”
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem bukannya langit item?

10. “Ibu kita Kartini…harum namanya.”
Namanya Kartini atau Harum?

11. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. naik delman istimewa kududuk di muka.”
Nah,gak sopan khan..

12. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
kalo mau nanam jagung, ngapain nyangkul dalam-dalam.

retrieved from 

Kelebihan dan kekurangan penilaian portofolio

Setiap konsep atau model penilaian tentu ada kelebihan dan kekurangannya, begitu juga dengan penilaian portofolio.
Kelebihan model penilaian portofolio, antara lain sebagai berikut:
1.    Dapat melihat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan feed-back dan refleksi diri.
2.    Membantu guru melakukan penilaian secara adil, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan tanpa mengurangi kreatifitas peserta didik.
3.    Mengajak peserta didik untuk belajar bertanggungjawab terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik dikelas maupun diluar kelas dalam rangka implementasi program pembelajaran.
4.    Meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dan penilaian.
5.    Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan mereka.
6.    Dapat digunakan untuk menilai kelas yang heterogenantara peserta didik yang pandai dan kurang pandai.
Adapun kekurangan penilaian portofolio, antara lain sebagai berikut:
1.    Membutuhkan waktu dan kerja ekstra.
2.    Penilaian portofolio dianggap kurang reliable dibandingkan dengan bentuk penilaian yang lain.
3.    Ada kecenderungan guru hanya memperhatikan pencapaian akhir sehingga proses penilaian kurang mendapat perhatian.
4.    Tidak tersedianya kriteria penilaian yang jelas.
5.    Penilaian portofolio masih relatif baru sehingga banyak guru, orang tua dan pesesrta didik yang belum mengetahui dan memahaminya.
6.    Sulit dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.
7.    Dapat  Menjebak pesrta didik jika terlalu sering menggunakan format yang lengkap dan detail.

Pengertian Penilaian Portofolio

Portofolio berasal dari bahasa inggris yang mengandung arti dokumen atau surat-surat,dapat pula diartikan kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Definsi portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan.Dr.Wina Sanjaya juga berpedapat dalam bukunya yang berjudul “pembelajaran dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi” bahwa portofolio adalah tehnik melakukan monitoring terhadap hasil kerja dan pengalaman siswa  dimana didalamnya berisi kumpulan karya siswa yang telah disusun secara sistematis dan terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

Portofolio  juga merupakan salah satu bentuk alternatif instrumen evaluasi hasil belajar yang dapat digunakan oleh seorang guru untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dan instrumen ini sangat dibutuhkan.Diatas telah dipaparkan bahwa portofolio didalamnya berisi kumpulan hasil karya siswa, hasil karya tersebut diberi nama evidence. hasil karya bisa dikerjakan di dalam kelas (artifact) maupun diluar kelas (reproduction).Penilaian portofolio juga digunakan untuk mengetahui aspek-aspek dari hasil karya siswa yang masih perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan, penilaian portofolio ini dapat menggunakan pendekatan holistik dan analisis. Beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam penilaian portofolio oleh seorang pendidik


Model desain system pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. kemp dkk. (2001) berbentuk lingkaran atau Cycle. Menurut mereka, model berbentuk lingkaran menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain system pembelajaran. Model desain system pembelajaran yang di kemukakan oleh kemp terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
1.    Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran.
2.    Menentukan dan menganalisis karakteristik siswa.
3.    Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen-komponen tugas belajar yang terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran.
4.    Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa.
5.    Membuat sistematika penyampaian materi pelajaran secara sistematis dan logis.
6.    Merancang strategi pembelajaran.
7.    Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran.
8.    Mengembangkan instrument evaluasi.
9.    Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktifitas pembelajaran.
Model desain system pembelajaran memungkinkan penggunanya untuk memulai kegiatan desain dari komponen yang mana saja. Model ini tergolong dalam taksonomi model yang berorientasi pada kegiatan pembelajaran individual atau klasikal. Model ini dapat digunakan oleh guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas secara efektif, efisien dan menarik.
Menurut Gustafson dan Branch (2002), model desain system pembelajaran yang dikemukakan oleh Kemp dkk merupakan sebuah model yang berfokus pada perencanaan kurikulum. Model dengan pendekatan trdisional ini memprioritaskan langkah dan perspektif siswa yang akan menempuh proses pembelajaran. Factor penting yang mendasari penggunaan model desain system pembelajaran kamp, yaitu:
1.    Kesiapan siswa dalam mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
2.    Strategi pembelajaran dan karakteristik siswa.
3.    Media dan sumber belajar yang tepat.
4.    Dukungan terhadap keberhasilan belajar siswa.
5.    Menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuaan pembelajaran.
6.    Revisi untuk membuat program pembelajaran yang efektif dan efisien.

Descriptive Research

Descriptive research does not fit neatly into the definition of either quantitative or qualitative research methodologies, but instead it can utilize elements of both, often within the same study. The term descriptive research refers to the type of research question, design, and data analysis that will be applied to a given topic. Descriptive statistics tell what is, while inferential statistics try to determine cause and effect.

Descriptive research can be either quantitative or qualitative. It can involve collections of quantitative information that can be tabulated along a continuum in numerical form, such as scores on a test or the number of times a person chooses to use a-certain feature of a multimedia program, or it can describe categories of information such as gender or patterns of interaction when using technology in a group situation. Descriptive research involves gathering data that describe events and then organizes, tabulates, depicts, and describes the data collection (Glass & Hopkins, 1984). It often uses visual aids such as graphs and charts to aid the reader in understanding the data distribution. Because the human mind cannot extract the full import of a large mass of raw data, descriptive statistics are very important in reducing the data to manageable form. When in-depth, narrative descriptions of small numbers of cases are involved, the research uses description as a tool to organize data into patterns that emerge during analysis. Those patterns aid the mind in comprehending a qualitative study and its implications.

Three main purposes of research are to describe, explain, and validate findings. Description emerges following creative exploration, and serves to organize the findings in order to fit them with explanations, and then test or validate those explanations (Krathwohl, 1993). Many research studies call for the description of natural or man-made phenomena such as their form, structure, activity, change over time, relation to other phenomena, and so on. The description often illuminates knowledge that we might not otherwise notice or even encounter. Several important scientific discoveries as well as anthropological information about events outside of our common experiences have resulted from making such descriptions. For example, astronomers use their telescopes to develop descriptions of different parts of the universe, anthropologists describe life events of socially atypical situations or cultures uniquely different from our own, and educational researchers describe activities within classrooms concerning the implementation of technology. This process sometimes results in the discovery of stars and stellar events, new knowledge about value systems or practices of other cultures, or even the reality of classroom life as new technologies are implemented within schools.


A.  Pengertian Tes obyektif

Tes ini dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (Short answer test), tes “ ya-tidak”, dan tes model baru (New type test), adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (Items) yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing items, atau dengan jalan menuliskan (mengisikan) jawabannya berupa kata-kata atau symbol-simbol tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan.

B.  Penggolongan Tes Obyektif

Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar , yang dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:

1.   Tes obyektif bentuk Benar-Salah (True-False Test).

Tes ini dikenal dengan istilah tes obyektif bentuk “benar-salah” atau tes obyektif “ya-tidak”. Tes ini adalah salah satu bentuk tes obyektif dimana butir-butir soal yang diajukan dalam tes hasil belajar itu berupa pernyataan (Statement). Tes obyektif ini bentuknya adalah kalimat atau pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban ya atau tidak.

Keunggulan Tes Obyektif Bentuk True-False, yaitu:

a.   Pembuatannya mudah.

b.   Dapat dipergunakan berulang kali.

c.   Dapat mencakup bahan pelajaran yang luas.

d.   Tidak terlalu banyak memakan lembaran kertas.

e.   Bagi testee, cara mengerjakannya mudah.

f.    Bagi tester, cara mengoreksinya juga mudah.

Adapun Kelemahannya, yaitu:

a.   Tes obyektif bentuk true-false membuka peluang bagi testee untuk berspekulasi dalam memberikan jawaban.

b.   Sifatnya amat terbatas, dalam arti bahwa tes tersebut hanya dapat mengungkap daya ingat dan pengenalan kembali saja. Jadi sifatnya hanya hafalan.

c.   Pada umumnya tes obyektif jenis ini reliabilitasnya rendah, kecuali apabila butir-butir soalnya dibuat dalam jumlah yang banyak sekali.

d.   Dapat terjadi bahwa butir-butir soal tes obyektif jenis Ini tidak bisa dijawab dengan dua kemungkinan saja, yaitu betul atau salah, contoh:

B-S : Tes obyektif lebih baik daripada tes subyektif.

B-S : Ilmu Pengetahuan Sosial lebih berguna untuk dipelajari ketimbang Ilmu Pengetahuan Alam.

2.   Tes obyektif bentuk Menjodohkan (Matching Test).

Tes ini sering dikenal dengan istilah tes menjodohkan, tes mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan dan tes mempertandingkan.

Cir-ciri Tes Obyektif bentuk Matching sebagai berikut:

a.   Tes tediri dari satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.

b.   Tugas testee adalah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban yang telah tersedia, sehingga sesuai atau cocok atau merupaka pasangan, atau merupakan “jodoh” dari pertanyaannya.

Keunggulan Tes Obyek Bentuk Matching, sebagai berikut:

a.   Pembuatannya mudah.

b.   Dapat dinilai dengan mudah, cepat dan obyektif.

c.   Apabila tes jenis ini dibuat dengan baik, maka factor menebak praktis dapat dihilangkan.

d.   Tes jenis ini sangat berguna untuk menilai berbagai hal, misalnya:

-     Antara problem dan penyelesaiannya.

-     Antar teori dan penemunya.

-     Antara sebab dan akibatnya.

-     Antar singkatan dan kata-kata lengkapnya.

-     Antara istilah dan definisinya.

Kelemahan Tes Obyektif Bentuk Matching, sebagai berikut:

a.   Matching tes cenderung banyak mengungakap aspek hafalan atau daya ingat saja.

b.   Karena mudah disusun, maka tes jenis ini acapkali dijadikan pelarian bagi pengajar, yaitu dipergunakan kalau pengajar tidak sempat lagi untuk membuat tes bentuk lain.

c.   Karena jawaban yang pendek-pendek,  maka tes jenis ini kurang baik untuk mengevaluasi pengertian, dan kemampuan membuat tafsiran (Interpretasi).

d.   Tanpa disengaja, dalam tes jenis ini sering menyelinap atau masuk hal-hal yang sebenarnya kurang perlu untuk diwujudkan.

3.   Tes obyektif bentuk Melengkapi (Completion Test).

Tes ini sering dikenal dengan istilah tes melengkapi atau menyempurnakan.

Ciri-ciri tes obyektif bentuk completion adalah:

a.   Tes tersebut terdiri ats susunan kalimat yang bagian-bagiannya sudah dihilangkan.

b.   Bagian-bagian yang dihilangkan itu diganti dengan titi-titik (………..).

c.   Titik itu harus di isi atau dilengkapi atau disempurnakan oleh testee dengan jawaban –( yang oleh tester)—telah dihilangkan.

Keunggulan tes obyektif bentuk  completion, adalah :

a.   Tes model ini sangat mudah penyusunannya.

b.   Jika dibandingkan dengan tes obyektif bentuk fill in, tes ini lebih menghemat tempat(menghemat kertas).

c.   Jika bahan yang disajikan cukup banyak dan beragam, maka persyaratan komperhensif dapat dipenuhi oleh tes model ini.

d.   Tes ini dapat digunakan untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.

Kekurangan tes obyektif bentuk completion adalah:

a.   Pada umumnya tester lebih cenderung menggunakan tes model ini untuk mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.

b.   Dapat terjadi bahwa butir-butir item kurang relevan untuk diujikan.

c.   Karena pembuatannya mudah, sehingga tester sering kurang hati-hati dalam menyusun kalimat soalnya.

4.   Tes obyektif bentuk Isian (Fill In Test).

Tes ini biasanya berbentuk cerita atau karangan . Kata-kata penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya dikosongkan, sedang tugas testee adalah mengisi bagian-bagian yang telah dikosongkan itu.

Keunggulan :

a.   Dengan menggunakan tes ini, maka masalah yang diujikan tertuang secara keseluruhan dalam konteksnya.

b.   Butir-butir tes ini berguna sekali untuk mengungkap pengetahuan testee secara utuh mengenai suatu bidang.

c.   Cara penyusunan itemnya mudah.


a.   Tes ini cenderung lebih banyak mengungkap aspek pengetahuan atau pengenalan saja.

b.   Jika  tes tertuang dalam bentuk cerita, maka tes ini umumnya banyak memakan tempat.

c.   Tes ini sifatnya kurang komperhensif karena hanya dapat mengungkap sebagian saja dari bahan yang seharusnya diteskan.

d.   Terbuka peluang bagi testee untuk bermain tebak terka.

5.   Tes obyektif bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choice Item Test).

Tes ini sering dikenal dengan istilah tes obyektif bentuk pilihan ganda, yaitu salah satu bnetuk tes obyektif yang terdiri atas pertanyaan atau perntyataan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu (lebih) dari beberapa kemungkinan jawab yang telah disediakan pada tiap-tiap butir soal yang telah disediakan.

Tes ini dikatakan objektif karena para siswa tidak dituntut merangkai jawaban atas dasar informasi yang dimilikinya seperti pada tes esay. Pada tes jenis ini, jawabab pada umumnya sudah disediakan atau sudah diarahkan dan lebih bersifat pasti.

Secara garis besar tes objektif dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:

a.   Tes jawaban bebas atau jawaban terbatas, mengungkapkan kemauan siswa

b.   Tes melengkapi mengungkap kemampuan siswa dengan memberikan spasi atau ruang kosong untuk diisi dengan jawaban (kata) yang tepat.

c.   Tes asosiasi, mengungkap kemampuan siswa dengan menyediakan spasi yang diisi dengan satu jawaban atau lebih, dimana jawaban tersebut masih memiliki keterkaitan dan bersifat homogen antara satu dengan lainnya.

Kemiripan dari ketiga tes di atas adalah :

1.   Masing-masing tes memerlukan hafalan dari para siswa.

2.   Masing-masing menuntut jawaban singkat dari para siswa.

3.   Masing-masing tes pada umumnya direncanakan untuk mengungkap pemikiran siswa tentang materi pembelajaran yang dikategorikan sebagai definisi atau batasan, pengetahuan tentang fakta dan prinsip-prinsip pengetahuan.

Perbedaan dari ketiga tes di atas terutama dilihat dari format atau bentuk tesnya. Tes jawaban singkat atau bebas merupakan yang item-itemnya dibuat dalam bentuk pertanyaan. Tes melengkapi bentuk itemya memiliki satu spasi atau ruang kosongdan harus dijawab siswa, dan tes asosiasi memiliki ruang kosong yang diisi dengan jawaban yang memiliki kaitan satu dengan lainnya.

Tes objektif jenis isian ini masih berkaitan dengan tes esai, karena tes ini masih menuntut jawaban bebas dan singkat dari para siswa. Namun, karena tes tersebut hanya memberikan kesempatan kepada siswa menjawab dengan satu kata dan biasanya telah terikat dalam definisi, fakta, dan atau prinsip-prinsip pengetahuanmaka tes tersebut disebut sebagai tes objektif jenis isian.


Acting and Conversing

Speech Acts     
In speech acts, J.L Austin has a theory about the performative acts in which a person is not just saying something but it is actually doing something if certain real world conditions are met. He pointed out that perforamtives should met felicity conditions in order to be successful. A conventional procedures,  all participants must execute the procedures, and finally the necessary thoughts, feelings, and intentions must be present in all parties. Austin devides performatives into five categories; verdictives, exercitives, commissives, behabitives, and expositives.

On the other side, Searle argued that we can speak minimally at three kinds of acts. There are utterance acts which refers to the fact that we must utter words and sentences when we want to say anything at all, prepositional acts which refers to those matters that have to do with referring and predicitng, and illocutionary acts which refers to the intents of the speakers. As the additinon, Searle also regulates some rules in governing promise-making. Those are the propositional content, preparatory rules, sincerity rules and the essential rules.
In oppose to Austin, who concentrate his study on how the speakers realize their intentions in speaking, Searle focuses on how listeners respond to the utterances. Both Austin and Searle recognize that the people use language to achieve the variety of objectives.

Cooperation and Face; Grice and Goffman
Based on Grice’s view, it is stated that we are able to converse each other because of the recognition of common goals and the specific ways of achieving them. The acts in conversation should in line with cooperative principle, the general principle in which a mutual engagement happen between listeners and speakers. There are four maxims of cooperative principles (Grice; 1975). Those are quantity which makes the contribution as the required informatives, quality in which the belief should not be falsely said or lack adequate evidence, relation as the simple injunctions, and manner to avoid obscurity of expression and ambiguity.

In the Griece sense, a conversation is a cooperative activity depends on the speakers and listeners sharing a set of assumption. But, it is also cooperative in the sense that speakers and listeners tend to accept each other for what they claim to be, that is, the accepts of ‘face’ that the other offers. Goffman (1955) called ‘face’ as the work of presenting faces to each others, protecting our own’s face and the other’s face. In other word, ‘the affective state of the speaker’ and ‘his profile of identity’ are much the same as the idea of ‘face’.

Keadaan Pertanian di Indonesia

Pertanian merupakan fokus utama dari strategi dan prioritas pengembangan orde baru. Meskipun sektor ini tidak begitu menderita kerusakan di zaman Soekarno, dibandingkan dengan komponen ekonomi yang didasarkan perkotaan, kinerja pertanian pada periode sebelum 1966 tidak begitu mengesankan. Indonesia lamban dalam mengolah kesempatan yang muncul dari varietas panen baru yang dikenal dalam revolusi hijau, sebagian disebabkan input perdagangan sektor modern belum siap.

Sejak awal tahun 1970, paradigma pembangunan pertanian di Indonesia berubah drastis seiring perubahan paradigma pembangunan ekonomi kapitalistis yang bertumpu pada modal besar. Dalam kerangka pembangunan ekonomi saat itu, sektor pertanian tidak lagi ditempatkan sebagai fondasi ekonomi nasional, tetapi dijadikan buffer (penyangga) guna menyukseskan industrialisasi yang dijadikan lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Sebagai penyangga, yang terpenting bagi pemerintahan Orba adalah bagaimana mendongkrak produksi pangan dalam negeri tanpa harus berbelit-belit, cepat, dan tidak berisiko secara politik. Pilihan ini sebagai antitesis program land reform di masa Orde Lama (Orla) yang dijadikan landasan utama dalam program pembangunan pertanian semesta. Kebetulan pada saat bersamaan arus global politik-ekonomi dunia memperkenalkan revolusi hijau sebagai lawan dan alternatif revolusi merah.

Orba yang sejak kelahirannya menganut ideologi ekonomi kapitalis cenderung melaksanakan pembangunan pertaniannya melalui by-pass approach (jalan pintas), yaitu revolusi hijau tanpa reformasi agraria (pembaruan agraria). Karena itu, pembangunan di Indonesia oleh Rohman Sobhan (1993) disebut sebagai development without social transition (Wiradi, 1999).

Perubahan paradigma ini menciptakan missing link dalam pelaksanaan pembangunan pertanian dari satu periode ke periode lain. Pertanian tidak lagi dipandang dalam aspek menyeluruh, tetapi direduksi sebagai sekadar persoalan produksi, teknologi, dan harga. Tanah sebagai alas pembangunan pertanian tidak dianggap sebagai faktor amat penting. Persoalan keterbatasan lahan petani yang rata-rata hanya memiliki 0,25 hektar, menurut Syaiful Bahari dari Bimas Ketahanan Pangan, dapat diatasi dengan menempuh non-land based development (Kompas, 17/1/2004), bukan dengan merombak dan menata kembali struktur penguasaan tanah yang lebih adil dan merata melalui reformasi agraria. Cara pandang seperti ini merupakan cermin jalan pintas yang mendominasi kebijakan dan strategi pembangunan pertanian sejak masa Orba hingga sekarang.

Structuralism and Ferdinand De Saussure

These influential theories of the second half of the twentieth century, all of which are focused on language, have their origins in the linguistic theory of Ferdinand de Saussure (1857-1913), he defines the proper object of linguistic study as the system of signs used by human beings, and the relationships of which can be studied in the abstract, or as he says “synchronicity” rather than “diachronically.” In other words, there is no reference to any particular historical implementation of that language.

According to Saussure, the basic unit of language is a sign.  A sign is composed of signifier (a sound-image, or its graphic equivalent) and a signified (the concept or meaning).  So, for example, a word composed of the letters p-e-a-r functions as a signifier by producing in the mind of English-speakers the concept (signified) of a certain kind of rosaceous fruit that grows on trees, viz., a pear.

Saussure’s way around this obvious objection is to say that his interest is in the structure of  language, not the use of language.  As a scientist, Saussure limited his investigation to the formal structure of language (langue), setting aside or bracketing the way that language is employed in actual speech (parole).  Hence, the term structuralism.  Saussure bracketed out of his investigation any concern with the real, material objects (referents) to which signs are presumably related.  This bracketing of the referent is a move that enabled him to study the way a thing (language and meaning) is experienced in the mind.  In this sense, his motivation was similar to Husserl's.  And in the end, Saussure never offered a method for investigating how language as a system hooks up to the world of objects that lie outside language.  As we shall see, this was to have far-reaching effects.
Diberdayakan oleh Blogger.
© 2009 LinguaSphere | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan